Minggu, 28 Desember 2014

Penyakit Gangguan Reproduksi Hewan

Brucellosis
a.      Penyebab
         Brucellosis atau penyakit Bang disebabkan suatu kuman kecil berbentuk batang dan bersifat gram negatif, Brucella abortus, yang tumbuh di dalam sel. Bakteri ini pertama kali diuraikan oleh Bang di Denmark tahun 1897. Brucellosis terjangkit pada sapi di seluruh dunia, kecuali di negara-negara yang telah mengendalikan penyakit tersebut dengan vaksinasi atau dengan cara-cara lainnya
b.      Cara penularan
         Penularan dapat terjadi karena pembelian dan pemasukan satu betina yang tertular ke dalam suatu kelompok ternak. Materi yang tertular dapat terbawa dari suatu peternakan ke peternakan lain oleh anjing atau manusia.
Infeksi sering terjadi karena ingesti kotoran dari alat kelamin hewan yang mengalami abortus yang mengkontaminasi makanan dan air. Penularan dapat pula terjadi melalui selaput lender mata dan intrauterin setelah inseminasi dengan semen yang tertular.
c.       Gejala Klinis
         Brucella abortus menyebabkan keguguran pada trimester terakhir masa kebuntingan penyakit gangguan reproduksidan diikuti oleh suatu periode infertilitas. Brucella abortus menyebabkan demam “undulans” atau brucellosis pada manusia yang meminum susu mentah yang belum dipasteurisasi atau bersentuhan dengan kotoran atau tenunan yang tertular.
Keluron karena Brucella abortus umumnya terjadi dari bulan keenam sampai kesembilan (setelah bulan kelima) periode kebuntingan. Kejadian abortus berkisar antara 5-90% dalam suatu kelompok ternak, tergantung dari jumlah hewan bunting yang tertular, daya penularan, virulensi organisme dan faktor lain.
gambar 1. Brucellosis pada organ reproduksi jantan

gambar 2. Brucellosis pada organ reproduksi betina

gambar 3. Bakteri "Brucella Abortus"

gambar 4. Gejala klinis Brucellosis
d.      Diagnosa
          Diagnosa terhadap brucellosis diperlukan untuk dua tujuan, pertama untuk menetapkan sebab abortus pada satu individu ternak,    dan kedua untuk mengidentifikasi ternak dalam rangka program pengendalian penyakit tersebut. Sejarah kelompok ternak sangat bermanfaat dalam mendiagnosa penyebab abortus. Diagnosa perbandingan antara penyebab abortus cukup sulit dan tidak mungkin tanpa bantuan pemeriksaan laboratoris. Lesio placental pada brucellosis, vibriosis dan penularan jamur pada sapi nampak sama.
e.       Identifikasi
           Organisme Brucella abortus dapat diidentifikasi pada preparat ulas dari bahan paru-paru. Media tersebut umumnya diisolasi dalam media kultur atau pada marmut.
  f.   Pencegahan dan Pengendalian
            Pencegahan brucellosis pada sapi didasarkan pada tindakan higiene dan sanitasi, vaksin anak sapi dengan Strain 19 dan  pengujian serta penyingkiran sapi reaktor. Tindakan higienik sangat penting dalam program pencegahan brucellosis pada suatu kelompok ternak,  Sapi yang tertular sebaiknya dijual atau dipisahkan dari kelompoknya. Fetus dan placenta yang digugurkan harus dikubur atau dibakar dan tempat yang terkontaminasi harus didesinfeksi dengan 4% larutan kresol atau desinfektan sejenis
Program vaksinasi dilakukan pada anak sapi umur 3-7 bulan dengan vaksin Brucella Strain 19. Tapi penggunaan Strain 19 harus hati-hati karena dapat menyebabkan brucellosis atau demam undulan pada manusia.
Metode pengendalian lainnya ialah vaksinasi dengan 45/20 terhadap semua ternak, uji serologik secara teratur dengan SAT atau BRT dan CFT, monitoring dengan MRT dan isolasi atau penyingkiran reaktor.
g.   Pengobatan
            Pengobatan brucellosis dengan berbagai antiseptik dan antibiotik telah dicoba tanpa hasil. Pengobatan yang efektif dapat dilakukan dengan antibiotik seperti kombinasi penisilin dan streptomisin, tapi dapat pula dengan metritin atau oestrilan yang diberikan intrauterina.
Retensio Secundinae
Retensi plasenta atau retensi membran fetus merupakan kondisi umum yang terjadi pada hewan terutama sapi perah. Secara fisiologis membran fetus dikeluarkan pada waktu 3-8 jam post partus. Jika plasenta menetap lebih lama dari 8-12 jam maka kondisi ini dianggap patologis dan terjadilah retensi plasenta.
Pada dasarnya retensi plasenta adalah kegagalan pelepasan villi kotiledon fetal dari kripta karunkula maternal. Sesudah fetus keluar dari korda umbilikalis putus, tidak ada darah yang mengalir ke villi fetal dan villi tersebut berkerut dan mengendur. Uterus terus berkontraksi dan sejumlah darah yang tadinya mengalir ke uterus sangat berkurang. Karunkula meternal mengecil karena suplai darah berkurang dan kripta pada karunkula berdilatasi. Pada retensi plasenta, pemisahan dan pelepasan villi fetalis dari kripta maternal terganggu dan terjadi pertautan.

a.   Etiologi
             Penyebab terjadinya retensi menurut Toeliehere (1985) adalah adanya infeksi uterus selama kebuntingan. Jasad-jasad renik seperti Brucella abortus, Tuberculosis, Camphylobacter foetus dan sebagian jamur menyebabkan Plasentitis dan Cotyledonitis yang mengakibatkan abortus atau kelahiran patologis dengan retensio secundinae. Adanya kelemahan dan atoni uterus karena berbagai penyakit juga bisa mengakibatkan retensi plasenta. Penyebab lain terjadinya retensi plasenta menurut Partodiharjo (1980) adalah gangguan mekanis yaitu selaput fetus yang sudah terlepas dari dinding uterus, tetapi tidak dapat terlepas, dan keluar dari alat kelamin karena masuk ke dalam kornu uteri yang tidak bunting, kurangnya kekuatan untuk mengeluarkan sekundinae setelah melahirkan dan gangguan pelepasan sekundinae dan karunkula dari induknya.

b.    Gejala klinis
            Gejala pertama yang sering terlihat adalah selaput fetus yang menggantung di luar vulva 12 jam atau lebih sesudah kelahiran normal, abortus atau distokia. Kadang selaput fetus tidak keluar melewati vulva tetapi menetap di dalam uterus dan vagina. Sekundinae sering menggantung sampai jauh ke bawah, sehingga dapat terinjak sapi lain. Kadang-kadang ada rasa sakit perut, ekor digerak-gerakkan, bagian belakang kaki menjadi kotor dan terlihat kontraksi uterus yang lemah. Ada bau spesifik dari alat kelamin yaitu bau sekundinae yang mulai mengalami pembusukan. Kotoran berwarna coklat keluar dari kelamin yang mengotori ekor, pantat, dan kaki belakang. Induk kelihatan depresi, produksi air susu menurun karena nafsu makan menurun, respirasi cepat, suhu tubuh meningkat.
gambar 5. Gejala klinis Retensio Secundinae

c.     Pemeriksaan
            Pemeriksaan terhadap selaput fetus sebaiknya dilakukan sesudah partus untuk mengetahui terjadinya retensi atau tidak. Pemeriksaan melalui uterus harus dilakukan dalam waktu 24–36 jam. Sesudah 48 jam biasanya sulit atau tidak mungkin memasukkan tangan ke dalam uterus kalau tidak ada selaput fetus di dalam servik. Adanya selaput fetus dalam servik cenderung menghambat kontraksi servik.

d.     Pengobatan
            Pertolongan terhadap retensi menurut Hardjopranjoto (1995) ditujukan pada pengeluaran sekundinae atau plasenta dari alat kelamin secepat-cepatnya dan diupayakan agar kesuburan induk penderita tetap baik. Penyuntikan subkutan atau intramuskuler horman oksitosin dengan dosis 100 IU untuk hewan besar. Tujuannya untuk mendorong kontraksi uterus. Pertolongan lain yang dapat dilakukan dengan pengeluaran sekundinae secara manual. Dianjurkan pelepasan ini dilakukan sebelum 48 jam pasca lahir. Bila ada infeksi, setelah selesai mengeluarkan sekundinae, diadakan pencucian dengan larutan antiseptik intrauterin seperti rivanol 1%. Pengobatan umum yang harus diberikan pada induk yang menderita retensio secundinarum adalah memberi ransum pakan yang baik dan mudah dicerna, kandang yang bersih, udara bersih, bebas dan cukup terang.





Prolapsus Uteri
Prolapsus uteri adalah mukosa uterus keluar dari badan melalui vagina secara total ada pula yang sebagian. Pada umumnya terjadi pada sapi perah yang berumur lebih 4 tahun. Prolapsus atau pembalikan uterus sering terjadi segera sesudah partus dan jarang terjadi beberapa jam sesudah itu.
Pada sapi perah prolapsus uteri sering terjadi pada hewan yang selalu dikandangkan dan melahirkan di kandang dengan bagian belakang lebih rendah daripada bagian depan. Prolapsus uteri sering terjadi pada sapi yang sudah sering melahirkan dan hewan yang telah berumur tua dan makanan yang kurang baik selama hewan itu dipelihara dalam kandang, menyebabkan keadaan ligamenta penggantung uterus menjadi kendor, lemah dan tidak cepat kembali ke posisi sebelum bunting. Predisposisi terhadap prolapsus uteri menurut Toeliehere (1985) adalah pertautan mesometrial yang panjang, uterus yang lemah, atonik dan mengendur, retensi plasenta pada apek uterus bunting dan relaksasi daerah pelvis yang berlebihan. 
Tanda-tanda prolapsus uteri cukup jelas. Hewan biasanya berbaring tetapi dapat pula berdiri dengan uterus menggantung ke belakang. Selaput fetus dan atau selaput mukosa uterus terbuka dan biasanya terkontaminasi dengan feses, jerami, kotoran atau gumpalan darah. Uterus biasanya membesar dan udematus terutama bila kondisi ini telah berlangsung 4-6 jam atau lebih. Pada kebanyakan kasus dimana kondisi terlihat cukup awal dan segera dimintakan pertolongan dokter hewan, hewan masih dapat berdiri dan uterus tidak mengalami cidera berat maka prognosa cukup baik, angka kematian kurang dari 5%. Prognosa jelek biasnya berlaku pada sapi yang dilepas di lapangan rumput dan prolapsus uteri tidak dapat diamati dan tidak dilaporkan secara cepat.
Jika prolapsus hanya sebagian saja maka besarnya penonjolan mukosa uterus mungkin hanya sebesar tinju, mungkin sebesar kepala atau dapat pula lebih besar lagi. Bila prolapsus ini total maka sampai servik pun ikut tertarik keluar oleh beratnya uterus yang telah keluar dan memberikan pandangan yang sangat mengejutkan seolah-olah ada sekarung beras 20-30 kg tergantung di belakang sapi, berwarna merah tua dan kotor karena sekundinae yang masih melekat pada karunkula.
Penanganan prolapsus dipermudah dengan handuk atau sehelai kain basah. Uterus dipertahankan sejajar vulva sampai datang bantuan. Uterus dicuci bersih dengan air yang dibubuhi antiseptika sedikit. Uterus direposisi. Sesudah uterus kembali secara sempurna ketempatnya, injeksi oksitosin 30-50 ml intramuskuler. Kedalam uterus dimasukkan larutan tardomisol (TM) atau terramisin. Dilakukan jahitan pada vulva dengan jahitan Flessa atau Buhner. Jahitan vulva dibuka dalam waktu 24 jam. Dalam waktu tersebut servik sudah menutup rapat dan tidak memungkinkan terjadinya prolapsus. Penyuntikan antibiotik secara intramuskuler diperlukan untuk membantu pencegahan infeksi uterus.
 
 
 
 
http://andryrahim.blogspot.com/2012/03/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html

1 komentar:

  1. ini penulis pertamanya siapa ya ?
    terus gambar diatas milik sendiri ?

    BalasHapus